Among: Retrospeksi Satu Abad Tamansiswa—merupakan produksi ke-6 Teater Moksa yang diproduksi secara virtual dalam rangkaian Pameran Temporer Satu Abad Tamansiswa yang bekerja sama dengan Museum Kebangkitan Nasional dan Tamansiswa Pusat. Teater Moksa masih konsisten dengan karya yang lahir dari realitas sosial masyarakat, dalam upaya membuat penonton ngeh, kekinian menyangkut problematika pendidikan di Indonesia menyambut Merdeka Belajar.
Bertolak dari ruang-ruang remang Merdeka Belajar, apa problematika terbesar yang bersembunyi di baliknya? Sudah galibnya, Teater Moksa mencoba merefleksikan pikiran penonton lewat sebuah tontonan teater yang kisahnya diambil dari gejala zaman—dalam hal ini problematika pendidikan dalam idiom Merdeka Belajar ala Tamansiswa—namun sering luput dari pikiran kita sebagai renungan dalam berbudaya. Kali ini, retrospeksi satu abad menimbang kembali Tamansiswa dan gagasan Ki Hadjar Dewantara ‘Merdeka Belajar’ menjadi wujud artistik yang asik dalam mengungkapkan ‘keluhuran’ pada dunia pendidikan kita.
Naskah ini dibuat dalam rangka retrospeksi satu abad Tamansiswa. Sejatinya keempat lakon merupakan personifikasi dan bukan merupakan karakter realis yang utuh dalam pemanggungan. Tentunya dengan berbagai pertimbangan, naskah yang semula berdurasi 60 menit ini dimainkan sesuai dengan ketentuan durasi dan penyesuaian Pameran Temporer Satu Abad Tamansiswa—Museum Kebangkitan Nasional—menjadi sekitar 16 menit dengan proses pembuatan naskah, latihan dan perekaman selama satu bulan (April 2022).
Mengangkat berbagai idiom dalam pendidikan gaya Tamansiswa yang memiliki nilai-nilai universal terhadap kebudayaan umat manusia dan semangat kebangsaan. Memberi lakon yang menimbang kembali konsep “Merdeka Belajar” dan sejatinya sudah ada sejak satu abad yang lalu, namun agaknya baru sekarang ini dipatenkan dalam satuan pendidikan kita. Entah apakah implementasinya memang “Merdeka Belajar” itu bisa diterapkan meski belum juga betul-betul diajarkan belajar merdeka, wallahualam bishawab.
Orang 1 (Omen), seorang guru di masa sekarang yang dulunya pernah belajar di Tamansiswa sedang mengalami krisis kepercayaan diri sebagai guru lantaran digerus arus kekinian. Ia yang tiba-tiba saja ingat akan proses pembelajaran masa lalunya di Tamansiswa—dengan berbagai idiom dan gagasan Ki Hadjar Dewantara—mulai sadar, kalau nyatanya proses pendidikan yang selama ini ia lakukan terlambat satu abad menimbang lahirnya Tamansiswa yang lebih dahulu menggagas “Merdeka Belajar” dalam upaya pendidikan. Orang 2 (Iyan) yang tibatiba muncul sebagai personifikasi Ki Hadjar Dewantara memberi berbagai pertimbangan dalam pikir, rasa dan lakuan yang mesti dipegang teguh oleh seorang guru. Di bagian akhir, menimbang kembali satu abad muncul dalam dialog-dialog antara Murid 1 (Wawa) dan Murid 2 (MJ) yang merepresentasikan pola pendidikan kolonial yang tanpa disadari masih berlangsung hingga kini meski di sisi lain sudah ada arahan untuk “Merdeka Belajar”.
Produksi ke-6 Teater Moksa
Di Ruang Pameran Temporer, Museum Kebangkitan Nasional
20 Mei s/d 18 Juni 2022
Karya/Sutradara Panji Gozali
Pimpinan Produksi Jelly Vantani
Pemain
Rendi Sumbari sebagai Orang 1
Adi Ferian sebagai Orang 2
Wawa sebagai Orang 3 dan Murid 1
MJ sebagai Orang 4 dan Murid 2
Sekretaris Mei
Bendahara Miswoyo Jianto
Periset Seniwen dan Riska Devi Utami
Koordinator Tamansiswa Jakarta Eka Puji Lestari dan Tuti Rahayu
Manajer Panggung Bayu Aji Nugroho
Manajer Lampu Anang Ramadhan
Musik (Cipt.) Ki Hadi Sukatno
Penata Musik dan Suara Yogi Januardi
Penata Panggung Anang Ramadhan, Imam Fauzi dan Ainul Yakin
Penata Lampu Bayu Aji Nugroho dan Imam Fauzi
Penata Rias dan Kostum Nanda Komala
Juru Kamera dan Penyunting Video M. Rizki Fauzi, Firman Setiawan dan Apriliani Azzahra
Desain Seniwen
Dokumentasi Cahya Friyarto dan Hardian Indra Rukmana