Berawal dari kiat kami agar tetap produktif di tengah Pandemi Covid-19 dengan beberapa drama pendek yang sudah diterbangkan melalui akun Youtube @pemoedaberkesenian (Aku Tak Apa, Lebaran 2020, Berontak dari Normal yang Baru, Pesan Bunga Perdamaian dan Sentuhan Normal yang Baru), tontonan ini menawarkan proyeksi sandi-sandi lakuan manusia dalam wujud persatuan.
Ada gejala yang asik di tengah pandemi menyangkut berontak dari keterbatasan yang ada dan di sisi lain ikut anjuran #dirumahaja, social distancing, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan semacamnya. Gejala yang dimaksud adalah peralihan kegiatan secara fisik, ke arah virtual yang sangat meledak. Apa-apa virtual. Mulai dari seminar online, belajar online, rapat online, ngaji online bahkan pentas pun juga bisa online.
Aneh memang, selama tidak betul-betul menggantikan hakikat kebersamaan yang nyata paska masa pandemi usai, menjadi hal yang wajar. Sebagai masyarakat yang multikultural, agaknya memang sulit juga kalau lebaran pun ikut dionlinekan. Sebab tradisi salam-menyalam sudah mendarah daging dan sudah tentu jamuan virtual menjadi kemelut yang menyedihkan buat sebagian masyarakatnya. Mencoba bersyukur tapi di sisi lain juga menangis tanpa bisa teriak lepas. Lalu pertanyaannya, apa betul semua virtualisasi tidak serta-merta mengurangi esensi yang ada?
Ketika transmisi Covid-19 belum dapat dikendalikan dan pandemi masih merajalela melahap kehidupan di sudut-sudut perkotaan maupun pedesaan, apa yang diharapkan manusia-manusia kini dengan berpangku tangan pada normal yang baru selain sekadar rasa gatal rindu udara yang bebas? Seseorang itu melihat dirinya sendiri dalam sebuah objek; menjaga dan merawat dirinya sedemikian rupa sambil tunduk pada protokol yang ada. Tak disangka, kegatalan yang njelimet belakangan membuat batin mendorong diri untuk berontak pada keadaan. Entah sampai kapan.
Melihat gejala yang kian bermunculan dengan berbagai macam sentuhan-sentuhan ajaibnya. Segala hal yang baru nyaris membuat banyak perubahan, tak terkecuali pada normal-normal yang baru. Seakan normal yang biasa menjadi tidak normal, ketidaknormalan menjadi absurditas belaka dan absurditas menjadi abstraksi belaka. Atau, jangan-jangan normal yang baru itu sama juga dengan abstraksi yang selama ini manusia ilhami? Wallahualam. Kita hanya berputar dalam lingkaran yang sama. Atau jangan-jangan lingkaran itu yang berputar mengelilingi kita, lantaran kita yang semakin alpa pada keadaan sekitar dan sudah kepalang menjadi kemelut yang ruwet? Paling tidak, tupai tidak akan jatuh kalau tidak pecicilan loncat-loncat. Melihat; hingga semua kembali pada normal yang betulan normal, dalam setiap keberagamannya. Tontonan ini mencoba berontak dari kekeliruan yang dianggap sah menurut hukum ketidaksabaran manusia.
Bisa jadi, alat-alat pencegah penyebaran pandemi itu berubah menjadi alat pembunuh kita tanpa diimbangi pemakaiannya dengan pikiran-pikiran yang jernih. Pada akhirnya muncul sebuah pertanyaan, apa benar pandemi jauh lebih buas ketimbang pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di sekitar kepala kita?
Jakarta, 2020
Produksi ke-4 Teater Moksa
Di Youtube @pemoedaberkesenian
Sabtu, 21 November 2020 | Pukul 19.30 s/d 21.00 WIB
Karya/Sutradara Panji Gozali
Pimpinan Produksi Jelly Vantani
Pemain
Riska Handayani sebagai A
MJ sebagai B
Rendi Sumbari sebagai C
Wawa sebagai F1
Adi Ferian sebagai F2
Rafika Septiani sebagai O1
Ainul Yakin sebagai O2
Abdul Rahman sebagai O3
Imam Fauzi sebagai O4
Sekretaris Miswoyo Jianto
Bendahara Wawa
Operator Teknis Darma Kereng
Penata Panggung dan Lampu Anang Ramadhan dan Bayu Aji Nugroho
Penata Musik Jelly Vantani
Penata Rias dan Kostum Seniwen, Nanda Komala, Riska Handayani dan Rafika Septiani
Desain Seniwen
Dokumentasi Cahya Friyarto
Volunter Nurrul Fikri, Riska Devi Utami, Bagas Hadi dan Ibnu Yusca